Besitang, ElangPos
Perseteruan antara dua kelompok yaitu kelompok tani konservasi dan kelompok masyarakat Kedatukan Besitang di Kawasan Hutan Taman Nasional Gunung Lauser ( TNGL ) terlihat memanas, Minggu (26/1).
Menurut Amiruddin MR salah seorang masyarakat adat Kedatukan Besitang ketika dikonfirmasi ElangPos Minggu (26/1) mengatakan. Saat itu awal mulanya mereka sedang berkumpul di gubuk milik Radem di daerah Sei Bamban. Dibuka oleh Kedatukan Besitang Alim dan kawan- kawan. Menyampaikan kepada masyarakat yang membuka lahan di daerah Sei Bamban. Setelah itu pengurus Wahana Lingkungan Hidup Indonesia ( WALHI ). Pihaknya akan membantu masyarakat untuk menanam pisang di daerah Sei Bamban. Dengan rencananya membantu memberikan bibit pisang termasuk pembiayaan untuk penanaman pisang tersebut.
Saat mereka lagi merencanakan penanaman pohon pisang tersebut, tiba – tiba datang seorang petugas TNGL Besitang yang bernama Lembang Hutasoit. kemudian petugas tersebut menanyakan kepada pengurus WALHI. Darimana datangnya pengurus WALHI tersebut dan menanyakan surat tugas nya.
Salah seorang koordinator WALHI menjawab, ” surat tugas tidak ada, kedatangan kami hanya untuk membantu masyarakat petani Sei Bamban dan bersilaturahmi dengan mereka”.
Tiba – tiba datang seorang petani mengatakan jembatan telah di bongkar sebahagian masyarakat yang di duga masyarakat kelompok tani konservasi yang selama ini dibina pihak TNGL. Kemudian petugas itupun meninggalkan kami di gubuk tersebut, sambil mengatakan dirinya akan melaporkan kejadian pembongkaran jembatan tersebut ke petugas Kepolisian.
Akibat pembongkaran jembatan tersebut rombongan WALHI dan rombongan Kedatukan tidak dapat keluar dari lahan tersebut. Setelah itu barulah datang petugas Kepolisian Polsek Besitang untuk mengamankan dan mengevaluasi masyarakat adat Kedatukan Besitang untuk keluar dari lahan tersebut.
Namun Perseteruan antara dua kelompok ini, berlanjut pada hari Minggu (26/1) pagi kelompok tani konservasi melaksanakan pengrusakan 4 gubuk miliki kelompok masyarakat Kedatukan Besitang dengan cara dirobohkan pihak kelompok Tani Konservasi.
Akibat kejadian ini pihak kelompok masyarakat Kedatukan Besitang akan melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Besitang. 4 gubuk milik masyarakat Kedatukan Besitang yang di robohkan yaitu gubuk milik Radem, Syahril, Woyo dan Gitok.
Menurut Srik ( 34 ) istri Radem yang melihat aksi perobohan gubuk yang dilakukan puluhan orang yang diduga dari kelompok tani konservasi ketika dikonfirmasi wartawan Minggu (26/1) mengatakan. Selain merobohkan gubuk mereka, puluhan orang yang diduga dari kelompok tani konservasi itu melakukan penjarahan barang – barang dari dalam gubuk mereka. Barang – barang yang diambil mereka diantaranya kompor gas, sepatu, jam tangan dan lainnya. Akibat kejadian tersebut kelompok masyarakat Kedatukan Besitang mengalami kerugian material diperkirakan jutaan rupiah. Kelompok masyarakat adat Kedatukan Besitang minta aparat Kepolisian agar menindak pelaku pengrusakan dan penjarahan barang – barang milik mereka.
Kapolsek Besitang AKP. Adi Alfian, SH ketika dikonfirmasi wartawan Minggu (26/1) melalui via HP mengatakan. Petugas yang tiba di tempat kejadian langsung melerai pertikaian tersebut. Sehingga tidak sempat terjadi ada korban jiwa akibat perseteruan itu. Petugas terus berusaha mengamankan situasi di daerah tersebut. Sehingga kondisi menjadi aman dan kondusif. Tegas Kapolsek yang akrab dengan insan Pers ini.
Namun menurut Syahril salah seorang anggota kelompok masyarakat Kedatukan Besitang menjelaskan kepada wartawan Minggu (26/1). Mulai kemarin petugas sudah melakukan pengamanan di lokasi dan mengevaluasi kelompok masyarakat Kedatukan Besitang. Agar kedua kelompok tidak saling anarkis.
Sementara Oto Demanik Kepala Kantor Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser ( BBTNGL ) Kabupaten Langkat melalui Kasubag Evlap Diro ketika dikonfirmasi elangpos.com Minggu (26/1) melalui via Hp mengatakan. Senin (27/1)  akan memberikan penjelasan kepada wartawan tegas nya. EL01